Thursday, May 29, 2008

Java's mountain forest

Lowland natural forests on Java have been generally cleared and remnants and many species are now confined to mountain areas making montane forest as important sites for a large extent of Java’s biodiversity (Whitten, et.al., 1996). Paddy field and plantations are now common in lowland landscapes in Java, substituting the primary lowland forest that used to be dominant in these landscapes. In the Northern Part of Java there are no single forest remains. In the Southern part only a few patches of lowland natural forests remaining such as those in West Java: Ujung Kulon and Pangandaran National Park. But all the lowland forests have vanished in the Southern part of Central and East Java where they were converted to plantations. Consequently, the only pristine forest in Java can only be found on mountains (Van Steenis, 1972). These forests have survived due to their remoteness and impracticalities of agricultural development. However, with the continue rapid growing of human population economic crises that Indonesia has been going through, forest clearance on the mountain (volcanic) slopes has achieved its highest rate more than there used to in the colonial periods. Added to the forest degradation, are the ones that caused by natural disturbances such as volcanic activity, fire, and landslides.

Friday, May 9, 2008

Edelweis

Mungkin bagi yang sering naik ke Gunung-Gunung di Jawa akan sangat familiar dengan tumbuhan ini. Edelweis mungkin adalah tumbuhan khusus yang paling terkenal di zona subalpin, sebbuah zona pegunungan dimana hanya terdapat satu lapis pohon dan agak “miskin jenis”. Memiliki nama latin Anaphalis javanica, masuk dalam famili Compositeae sesungguhnya merupakan tumbuhan sekunder yang muncul setelah vegetasi sub alpin terbakar atau hancur karena gangguan. Memiliki sifat pioneer hanya tumbuh di tempat yang miskin hara. Pertumbuhan edelweiss juga diperkirakan sangat lambat. Doctors Van Leeuwen (1933) mencatat bahwa sebuah semai edelweis memerlukan waktu kurang lebih 13 tahun untuk mencapai tinggi 20 cm. Jadi spesiemen edelweiss yang tinggi dengan ketebalan 15 cm mungkin telah tumbuh selama lebih dari 100 tahun Spesimen terbesar yang pernah dilaporkan adalah edelweiss raksasa dengan tinggi 6 m dan diameter batang 50 cm yang ditemukan di gunung Sumbing sekitar 70 tahunan yang lalu (Ecology of Java& Bali). Gambar disamping adalah specimen edelweiss yang dijumpai penulis di hutan sub alpin Merapi yang terlanda erupsi pada tahun 2006 yang lalu.

Paku pohon

Pakis atau paku pohon terutama Cyathea sp dari famili Cyatheaceae merupakan komponen umum daerah pegunungan terutama zona pegunungan bawah baik di hutan primer maupun di hutan yang telah terganggu. Diyakini sebagai bentuk hidup primitive sekaligus sophisticated life form yang kemungkinan telah ada semenjak masa Dinosarus masih ada, batang pohon pakis dapat tumbuh vertical setinggi 1 m dalam 15 tahun! Saat ini diketahui terdapat 15 jenis pakis pohon di Jawa yang hampir semuanya ditemukan di gunung (Ecology of Java& Bali). Gambar di atas diambil di hutan sekunder sekitaran Bukit Plawangan-Turgo, kawasan Taman Nasional Gunung Merapi.

Lumut

Salah satu ciri yang paling mencolok dari daerah-daerah basah di hutan pegunungan atas adalah adanya banyak lumut Aerobryum yang menutupi permukaan tanah dan menghiasi setiap ranting kecil, dan cabang-cabang tumbuhan utama yang terdapat 2-3 m di atas permukaan tanah. Di atas zona yang terselimuti awan, epifit yang paling umum dijunpai adalah lumut jangut atau Usnea (Ecology of Java& Bali). Gambar di atas diambil dari hutan pegunungan di Merapi pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut, nampak jelas adanya banyak lumut yang menutupi permukaan tanah.

Saturday, May 3, 2008

Up to Merapi

Ada 3 jalur yang biasanya dilalui untuk menuju puncak Merapi, mencapai puncak Garuda dengan ketinggian 2961 m adalah suatu kebanggaan tersendiri bagi yang mengalaminya.

Jalur-jalur yang biasanya dilalui adalah jalur Selo, jalur babadan dan jalur Kinahrejo.

  1. Jalur Selo

Jalur ini merupakan lintasan terpendek menuju puncak, hanya membutuhkan waktu rata-rata 4 jam pendakian yang dimulai dari joglo New Selo di atas desa Plalangan Kec Selo Kab Boyolali Jateng. Dsini ada pemandu lokal yang siap mengantar anda dengan tarif sekitar 100-ribu. Ada 3 pos yang mesti dilalaui yaitu pos 1 atau Selokopo Ngisor 2000 mdpl, dimana awal pendakian akan melewati jalan setapak yang kanan kirinya adalah kawasan pertanian. Kemudian 30 menit selanjutnya kita akan memasuki kawasan hutan. Pos 2 Selokopo dhuwur 2400 mdpl, jalan menuju selokopo dhuwur cukup tajam dan melalui lereng yang banyak batuan lepas, vegetasinya sudah mulai berkurang. Pos 3 Pasar Bubar, dari selokopo dhuwur jalannya tidak terjal, mulai naik tajam ketika mendekati punggungan lava gajah mungkur lalu belok ke kiri menuju Pasarbubar, yaitu lapangan luas yang datar dimana banyak angin bertiup kencang sehingga terdengar seperti suasana pasar. Perjalanan selanjutnya mendaki gunung anyar menuju puncak Garuda dengan kelerangan lebih dari 70 derajat, dan bau belerang sudah mulai terasa setelah itu tiba di tebing lereng kawah mati dan belok ke barat menuju puncak sekitar 5 menit disini kita akan jumpai tempat datar yang cukup luas.

  1. Jalur Babadan

Pendakian melalui jalur ini memerlukan waktu sekitar 5 jam. Di jalur Bbadan, kab Magelang Jawa Tengah ini kita akan disuguhi pemdangan yang indah dibandingkan 2 jalur lainnya. Sama seperti pada jakur Selo, disni pun terdapat pemandu lokal yang cukup profesional yang siap mengantar anda. Ada 3 pos yang harus dilwati yaitu, Pos 1 Bukit Pathuk 1600 mdpl, jarak tempuh ke bukit pathuk 1 jam dengan jalan setapak yang terpelihara, bila cuaca cerah bisa dilihat puncak Merapi beserta kubah lavanya disini jarak ke puncak hanya 2,5 km. Pos 2 Bukit Kejen 2100 mdpl, dari bkit pathuk jalan lurus ke bukit Klatakan ambil arah utara menyebrang hulu kali Trising1 menanjak ke bukit Stabelan kemudian ke bukit Krekep dan Bukit Kejen dengan jalan yang berliku. Pos 3 Pasar Bubar.

  1. Jalur Kinahrejo

Jalur ini panajng dan terjal dan memerlukan waktu sekitar 6jam-an untuk mencapai puncak. Jalur ini dimulai dari Pos 1 Labuhan yang terletak di Desa Kinahrejo Kec Cangkringan Kab Sleman Yogyakarta. Pada awalnya melintasi jalan dusun yang cukup lebar dan banyak dijumpai pohon pinus kemudian menuju jalan setapak yang terpelihara ke pos 1 labuhan. Temat ini terkenal karena diangap sakral dan setiap setahun sekali diadakan upacara labuhan yang diselenggarakan oleh Kraton Ngayogyakarto Hadiningrat sebagai perwujudan hubungan Laut Selatan-Kraton Yogya-Gunung Merapi. Pos 2 Kendit 2400 mdpl, Jalur setapaknya cukup terjal untuk sampai ke hulu Kalikuning yang berpasir vegetasi sudah mulai jarang, di tempat tertentu banyak batu dengan permukaan yang berlumut dan licin sehingga perlu hati2. Pos 3 Gendol 2800 mdpl, jalan setapak dari kendit ke gendol tak nampak jelas karena berada di atas lava masif, banyak dijumpai tanda-tanda berupa tumpukan batu sebagai rambu ke puncak. Yang perlu diperhatikan bila akan turun adalah ketika cuaca berkabut perlu berhati-hati dan jangan lupa siapkan bekal makanan dan minuman yang cukup.