Sunday, November 16, 2008

8th Flora Malesiana Symposium


1st Announcement

8th Flora Malesiana Symposium

23-27 August 2010

Singapore Botanic Gardens

The Past, Present and Future of Flora Malesiana

The Flora Malesiana Symposium is an important forum for the exchanges of taxonomic and systematic ideas and new research findings made in the study of the flora of Malesian region. Today, it has become a large international gathering of botanists and post-graduate students who study the diversity, ecology, biogeography, evolution and conservation of plants from tropical SE Asian countries, including Thailand, Malaysia, Singapore, Indonesia, the Philippines, Brunei, East Timor and Papua New Guinea, as well as the bordering countries.

Beginning in 1989, the Flora Malesiana Symposium has been held every three years alternating between a country in Malesia and a collaborating country outside the Malesian region. The eighth Flora Malesiana Symposium will be held in Singapore from 23 to 27 of August 2010, and hosted by the Singapore Botanic Gardens. The occasion also celebrates the occasion of 150th anniversary of the Singapore Botanic Gardens. The Gardens, with its historic Herbarium and official journal, Gardens Bulletin Singapore, have contributed significantly to the study of the Malesian flora. The host country and the hosting institution in Singapore are pleased to have the privilege to organize the 8th Flora Malesiana Symposium. Together with the Flora Malesiana Foundation, the Singapore Botanic Gardens welcomes you all to attend the symposium in August 2010.

http://www.sbg.org.sg/fm8


Wednesday, November 5, 2008

Fungi




Gambar di atas adalah foto dari spesies jamur keranjang atau basket fungi. Scientifically named as Dictyophora sp. Jamur ini saya temukan hidup liar di antara semak-semak di Kebun Raya Eka Karya Bedugul Indonesia. Selain disana, jamur ini juga pernah dilaporkan dijumpai di Taman Nasional Kerinci Seblat. Belum banyak hal yang diketahui mengenai jamur jenis ini.

Saturday, October 25, 2008

Journeys of Enlightment

Pada tahun 1817, seorang wanita muda berumur 17 tahun, terpelajar dan berasal dari keluarga kelas menengah di Prancis menyamar menjadi seorang pria dan naik ke atas kapal Uranie yang akan berlayar mengeksplorasi belahan Bumi bagian Selatan untuk mendampingi suaminya. Yang dibawanya saat itu hanyalah, seperangkat alat tulis, gitar dan alat-alat kebersihan pribadi. Sejarah kemudian mencatatnya sebagai salah satu dari beberapa wanita yang pernah berlayar mengitari bumi. Wanita pemberani tersebut bernama Rose de Freycinet, dengan setianya mendampingi suami dalam rangka ekspedisi menjelajah tanah baru. Rose sangat rajin mengisi buku hariannya selama perjalanan tersebut. Dengan baiknya dia mendeskripsikan setiap tempat baru yang mereka datangi di dalam buku hariannya. Buku harian tersebut adalah salah satu barangnya yang selamat dari puing-puing kapal mereka yang karam. Pada tahun 1962, buku hariannya yang berbahasa Prancis tersebut diterjemahkan dan dipublikasikan. Salah satu cerita yang cukup menarik adalah ketika mereka mendarat di new Hollandia atau yang sekarang kita kenal dengan Australia. Pada Bulan September 1824 kapal mereka berlabuh di daerah pesisir sekitar Australia Barat dan mendirikan camp. Daerah dimana camp ini didirikan tetap menjadi misteri sampai pada tahun 2005 para scientist dan sejarahwan Australia berhasil menemukan lokasi dimana camp tersebut pernah ddirikan berdasarkan catatan buku harian Rose serta lukisan seniman kapal. Daerah itu bernama Shark Bay, Western Australia. Di buku hariannya, tertanggal, Sepetember 1824, Rose menulis bahwa dia agak tidak nyaman berada disana. Selain udara yang sangat panas, daerahnya juga hampir tidak bervegetasi. Saat siang mulai berlalu ia biasa berjalan diatas pasir yang masih panas sambil mengumpulkan Kerang laut yang mana kemudian menjadi kolesinya yang sangat bagus menurutnya. Pada 1835 Rose meninggal pada usia 35 tahun karena menderita kolera, setelah sebelumnya ia merawat suaminya yang menderita penyakit yang sama. Penggalan cerita tadi hanyalah sebagian materi pameran yang ada di pameran berjudul “Journeys of Enlightment: French Exploration of Terres Australes” yang digelar di museum maritim di Fremantle, Western Australia. Selain menampilkan sisi romatika sejarah seperti kisah Rose diatas, juga ditampilkan sejarah perkembangan sains terutama di bidang eksplorasi dan taksonomi flora dan fauna terutama di Australia. Caroleus Linnaeus, Bapak taksonomi modern tersebut juga ‘hadir’ sebagai salah satu ‘pemateri’. Sketsa dan gambar asli dari herbarium awal flora Australia seperti Anigozanthes, Eucalyptus, dan Banksia repens juga ditampilkan yang tertanggal tahun 1766. Juga ditampilkan beberapa peta, catatan harian langka serta buku terbitan asli edisi pertama karya-karya besar seperti buku taksonomi Linnaeus tahun 1788. Selain itu juga ada awetan berbagai macam hewan selama ekspedisi-ekspedisi tersebut seperti awetan ular laut, burung elang, kepiting, serta berbagai mamalia dan reptilian lainnya. Yang cukup menarik adalah ketika mengunjungi tempat display Rose. Disana ada replica tenda yang pernah digunakan Rose saat berada di Shark Bay, tenda berwarna putih dengan tinggi hampir 3 meter berbentuk seperti tumpeng dengan bendera putih diatasnya adalah replica yang dibuat berdasarkan lukisan seniman kapal yang juga melukis Rose didepan tendanya. Yang juga kemudian menginspirasi replica satu setel pakaian yang pernah dikenakan Rose yang juga ditampilkan dipameran ini. Pakaian tersebut dipasang di mannequin yang juga dbuat berdasarkan interpretasi lukisan tersebut. Anggun, itulah kesan yang pertama kali akan kita dapati. Dan saat kita mendekati display salah satu halaman dari buku harian aslinya tiba-tiba terdengar suara wanita yang seolah-olah seperti Rose sendiri yang sedang menceritakan isi buku hariannnya pada bagian ketika mereka berada di Shark Bay. Pameran ini telah dimulai sejak tanggal 17 Oktober dan akan berakhir 30 Oktober 2008. Dengan HTM $10 untuk dewasa kiranya banyak ilmu pengetahuan yang akan kita dapatkan, meskipun akan lebih baik lagi bila ada diskon bagi pelajar dan mahasiswa.

Tuesday, October 21, 2008

Biosphere Reserve

Indonesia proposed to add its Biosphere Reserve Sites to the UNESCO (Kompas, 21/10/08). Currently, Indonesia already have 6 Biosphere Reserves, namely: Gede-Pangrango, Tanjung Puting, Komodo, Kutai, Siberut and Leuser, which all of them are in a form of national park.This 'establish' conventional concept of biosphere reserve has to be a national park, seems need to be reformat. Because by doing so it will allow wider applicable to other areas in Indonesia.

There has been different ways of looking at how a biosphere reserve take form. First and quite establish concept is that biosphere reserve has to be a national park. The second is that the idea that biosphere reserve is not a matter of status, instead it is more than that, it is the matter of management. The newly proposed biosphere reserve is Giam Siak Bukit Batu which located in Riau Province is currently not a national park, instead it is actually a part of a forest concession areas that dedicated for conservation areas ( 72, 255 ha) by the Sinar Mas Forestry Group. If the first concept will be applied, then the proposed area will have to be converted to national park, and surely if not it will bring many pro-contra, looking at the fact that most national parks in this country failed to achieve its goals and become degraded land as well. So the second idea offered more down to earth concept that basically tries to implement the conservation paltform which is to save, study and to use. More focal point will be on research and carbon trade based on the REDD platform.

See also my recently published article on towards sustainable bedugul ecosystem at: http://www.kabarindonesia.com/berita.php?pil=4&dn=20081022081316

Saturday, October 18, 2008

Princess

"Aku ingin menjadi Dyah Pitaloka yang menolak pasrah pada nasib. Aku ingin menentukan sendiri untuk menjadi diriku sendiri"

Sundanese Princess, Dyah Pitaloka...

Terlahir sebagai putri Linggabuana, seorang raja negeri Sunda tidak membuat Dyah Pitaloka Citraresmi menjadi putri manja dan egois. Justru sebaliknya, Dyah Pitaloka digambarkan sebagai putri yang memiliki semangat visioner,berpikir maju, Ia ingin, perempuan negerinya tak hanya pandai menjadi istri setia, tetapi juga pandai membaca dan menulis. Ia tak ingin sekadar menjadi seperti Dayang Sumbi atau Purbasari. Ia bermimpi, perempuan Sunda kelak juga bisa memimpin negeri sebagaimana cerita yang ia baca dari negeri-negeri seberang di luar Tanah Sunda.. Bila Kartini berusaha berjuang untuk kemajuan kaum wanita pada abad ke 19, maka sesungguhnya pemikiran feminisme dan ketidakpuasan atas apa yang dialami kaum wanita telah ada di pikiran seorang putri raja Sunda berabad abad sebelum masa kartini. Alur seperti mengapa tidak pernah ada wanita yang menjadi penguasa negeri sunda, mengapa betapa ayah-ibunya sangat berbahagia dengan kelahiran adik dyah pitaloka yang lebih karena bayi tersebut laki-laki.Serta ketidaksesuaian pendapatnya dengan ayahnya mengenai perjodohan yang dipaksakan hampir mirip seperti apa yang dialami Kartini, apakah history repeated itself in another form?

Dyah Pitaloka hingga saat ini diakui oleh Sundanese sebagai putri tercantik di tatar Sunda, mungkin hal yang sama juga terjadi di Jawa dimana Ken Dedes dianggap sebagai Putri tercantik, namun tak seperti Ken Dedes yang arcanya bisa kita lihat hingga saat ini, tak ada satupun peninggalan sejarah yang mendepiksikan bagaimana kecantikan sang Putri Sunda ini.

Perjalanan dyah pitaloka sebagai seorang wanita kerajaan sunda menemui suatu episode ketika ayahanda bermaksud menikahkan dirinya dengan raja kerajaan majapahit. Raja sunda punya visi ingin membawa kerajaan sunda kepada kejayaan dengan menjajagi kemungkinan menjalin keluarga dengan raja majapahit, sementara bagi Majapahit dalam hal ini adalah Gadjah Mada pernikahan Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk dilihatnya sebagai kesempatan untuk menggenapkan Sumpah Palapa-nya, sehingga Dyah Pitaloka dianggapnya sebagai upeti dari negeri taklukkan (hal inilah yang nantinya akan menyebabkan tumpahnya Perang Dahsyat yang dikenal dengan nama Perang Bubat).

Demi mengetahui kenyataan bahwa harga diri kerajaan Sunda telah dinjak-injak oleh Gadjah Mada maka terjadilah pertempuran yang melegenda yaitu perang Bubat (1357). Dengan bekal ilmu kanuragan yang dipelajarinya Dyah Pitaloka yang masih dalam gaun pengantinnya saat itu ikut bertarung mempertahankan negeri dan harga dirinya sebagai seorang putri Sunda.

Pertempuran dahysat yang tak seimbang antara 90-an pasukan Sunda dan lebih dari seribu orang pasukan Majapahit, kemudian menewaskan ayahandanya, Dyah Pitaloka pun memilih menikam ulu hatinya sendiri dengan patrem (sejenis tusuk konde penghias rambut wanita) daripada tunduk terhadap Majaphit.

Di dalam sejarah ada versi yang mengatakan bahwa Raja Hayam Wuruk yang tidak mengetahui rencana Gadjah Mada ini bersedih dengan peristiwa ini, menangis disamping jenazah calon istrinya itu. Beliau marah dengan cara diam seribu bahasa dengan mahapatihnya itu hingga kemudian Gadjah Mada diberhentikan dan kemudian ia memilih mengembara dan moksa. Di tempat lainnya, di kerajaan majapahit mulai banyak pertentangan dan perpecahan semenjak peristiwa perang bubat dan moksanya Gadjah Mada yang kemudian nampaknya menjadi awal keruntuhan kerajaan besar itu.

Perang bubat merupakan kesalahan pahaman. Kesalah pahaman yang tetap terbawa hingga ke masa ratusan tahun sesudahnya. Even today kita masih bisa melihat adanya beberapa hubungan Jawa-Sunda (orang Jawa dan orang Sunda) yang tampak tidak terlalu mulus, bahkan sampai pada tingkat (katanya) dimana tidak akan ada Jalan Gadjah Mada dan hayam wuruk di tatar sunda dan sebaliknya juga di Jawa. Apakah Perang Bubat yang terjadi berabad-abad yang lampau yang menyebabkan Sunda kehilangan putri tercantik dan raja yang sangat dicintainya dan Gadjah Mada yang gagal memenuhi sumpah palapanya yang menjadi penyebabnya................?

Reference:










picture http://yulian.firdaus.or.id/2006/01/30/dyah-pitaloka/

Dyah Pitaloka: Senja di langit Majapahit
Penulis Hermawan Aksan
Penerbit C/Publishing
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 326 hal
http://klub-sastra-bentang.blogspot.com/2006/01/dyah-pitaloka-senja-di-langit.html

Wednesday, October 15, 2008

Diva


19 March 1995 morning news was one of those shocking news in Indonesia. Nike Ardilla, a young, smart, talented girl had died in a car accident in Jl. Riau (or Jl RE Martadinata now).
And during the whole month I remembered thousand of people flocked to her grave to pray for her and convey their condolence, and the radio continously playing her songs. What is it that make her so loved and special? Even today after 13 years of her death, thousand of people still regularly visits her grave in Ciamis, West Java.
Born as the only girl in her family, she grew up as a astonishing young girl with multi talents. A very friendly and beautiful Sundanese face that if you believe in the ancient story of the most beautiful princess of Sunda, Dyah Pitaloka, then Nike Ardilla was definitely the one should be reffered to. She starts her singing carrer in a very young age, 12 years and she had already released an album "Seberkas Sinar" which was sold over 500,000 copies, follwoed by her next albums sold of average 1000,000 copies each has undoubtfully put herself in a new leading and promising Indonesian female singer.Not only in singing her carrers starred but also she was the most favourite winner in a cover girl contest, played various roles in many local movies and soap opera (sinetron). In her short carrers and lifespan for a girl her age, she had achieved many things in life. What I thought was the most noble was when she built a special school for the disables that she built in loving childhood memories of her disable friend.
In death, she soared, was the Asia Week magazine tribute gave to Nike Ardilla. Even, Indonesian Post Office issued a memorial stamps of Nike Ardilla special edition to gave tribute to the late diva. A loyal Fan Club and Cyber Club NAFC every year organize gathering for Nike's fans to cherish Nike especially on the 27 Dec (her birth date) and 19 Mar (her death). A museum was also built in Bandung special to display her properties, awards, albums and photos. Many new female singer have come and go but none of them could replace Nike.
Nike has inspire many people in various strata of the society. Although she died in a such a very young age, and perhaps only the good die young. If there is a trully Indonesian Diva Singer I think that must be Nike Ardilla.

In Loving Memoriam R Nike Ratnadilla 27 Des 1975-19 Mar 1995

Tuesday, October 7, 2008

Seedling recruitment after volcanic disturbance

Type of situation at Merapi in which recruitment from seed was taking place, Kaliadem, May 2008 (Private photo). The deposit is 2 years old. One pine seedling located in the centre. Pine needles and branches, both within and on top of the deposit prevent erosion, act as mulch and may aid in supplying nutrient.