"Aku ingin menjadi Dyah Pitaloka yang menolak pasrah pada nasib. Aku ingin menentukan sendiri untuk menjadi diriku sendiri"
Sundanese Princess, Dyah Pitaloka...
Terlahir sebagai putri Linggabuana, seorang raja negeri Sunda tidak membuat Dyah Pitaloka Citraresmi menjadi putri manja dan egois. Justru sebaliknya, Dyah Pitaloka digambarkan sebagai putri yang memiliki semangat visioner,berpikir maju, Ia ingin, perempuan negerinya tak hanya pandai menjadi istri setia, tetapi juga pandai membaca dan menulis. Ia tak ingin sekadar menjadi seperti Dayang Sumbi atau Purbasari. Ia bermimpi, perempuan Sunda kelak juga bisa memimpin negeri sebagaimana cerita yang ia baca dari negeri-negeri seberang di luar Tanah Sunda.. Bila Kartini berusaha berjuang untuk kemajuan kaum wanita pada abad ke 19, maka sesungguhnya pemikiran feminisme dan ketidakpuasan atas apa yang dialami kaum wanita telah ada di pikiran seorang putri raja Sunda berabad abad sebelum masa kartini. Alur seperti mengapa tidak pernah ada wanita yang menjadi penguasa negeri sunda, mengapa betapa ayah-ibunya sangat berbahagia dengan kelahiran adik dyah pitaloka yang lebih karena bayi tersebut laki-laki.Serta ketidaksesuaian pendapatnya dengan ayahnya mengenai perjodohan yang dipaksakan hampir mirip seperti apa yang dialami Kartini, apakah history repeated itself in another form?
Dyah Pitaloka hingga saat ini diakui oleh Sundanese sebagai putri tercantik di tatar Sunda, mungkin hal yang sama juga terjadi di Jawa dimana Ken Dedes dianggap sebagai Putri tercantik, namun tak seperti Ken Dedes yang arcanya bisa kita lihat hingga saat ini, tak ada satupun peninggalan sejarah yang mendepiksikan bagaimana kecantikan sang Putri Sunda ini.
Perjalanan dyah pitaloka sebagai seorang wanita kerajaan sunda menemui suatu episode ketika ayahanda bermaksud menikahkan dirinya dengan raja kerajaan majapahit. Raja sunda punya visi ingin membawa kerajaan sunda kepada kejayaan dengan menjajagi kemungkinan menjalin keluarga dengan raja majapahit, sementara bagi Majapahit dalam hal ini adalah Gadjah Mada pernikahan Dyah Pitaloka dengan Hayam Wuruk dilihatnya sebagai kesempatan untuk menggenapkan Sumpah Palapa-nya, sehingga Dyah Pitaloka dianggapnya sebagai upeti dari negeri taklukkan (hal inilah yang nantinya akan menyebabkan tumpahnya Perang Dahsyat yang dikenal dengan nama Perang Bubat).
Demi mengetahui kenyataan bahwa harga diri kerajaan Sunda telah dinjak-injak oleh Gadjah Mada maka terjadilah pertempuran yang melegenda yaitu perang Bubat (1357). Dengan bekal ilmu kanuragan yang dipelajarinya Dyah Pitaloka yang masih dalam gaun pengantinnya saat itu ikut bertarung mempertahankan negeri dan harga dirinya sebagai seorang putri Sunda.
Pertempuran dahysat yang tak seimbang antara 90-an pasukan Sunda dan lebih dari seribu orang pasukan Majapahit, kemudian menewaskan ayahandanya, Dyah Pitaloka pun memilih menikam ulu hatinya sendiri dengan patrem (sejenis tusuk konde penghias rambut wanita) daripada tunduk terhadap Majaphit.
Di dalam sejarah ada versi yang mengatakan bahwa Raja Hayam Wuruk yang tidak mengetahui rencana Gadjah Mada ini bersedih dengan peristiwa ini, menangis disamping jenazah calon istrinya itu. Beliau marah dengan cara diam seribu bahasa dengan mahapatihnya itu hingga kemudian Gadjah Mada diberhentikan dan kemudian ia memilih mengembara dan moksa. Di tempat lainnya, di kerajaan majapahit mulai banyak pertentangan dan perpecahan semenjak peristiwa perang bubat dan moksanya Gadjah Mada yang kemudian nampaknya menjadi awal keruntuhan kerajaan besar itu.
Perang bubat merupakan kesalahan pahaman. Kesalah pahaman yang tetap terbawa hingga ke masa ratusan tahun sesudahnya.
Even today kita masih bisa melihat adanya beberapa hubungan Jawa-Sunda (orang Jawa dan orang Sunda) yang tampak tidak terlalu mulus, bahkan sampai pada tingkat (katanya) dimana tidak akan ada Jalan Gadjah Mada dan hayam wuruk di tatar sunda dan sebaliknya juga di Jawa. Apakah Perang Bubat yang terjadi berabad-abad yang lampau yang menyebabkan Sunda kehilangan putri tercantik dan raja yang sangat dicintainya dan Gadjah Mada yang gagal memenuhi sumpah palapanya yang menjadi penyebabnya................?
Reference:
picture http://yulian.firdaus.or.id/2006/01/30/dyah-pitaloka/Dyah Pitaloka: Senja di langit Majapahit
Penulis Hermawan Aksan
Penerbit C/Publishing
Tahun 2005 - Cetakan I
Tebal 326 hal
http://klub-sastra-bentang.blogspot.com/2006/01/dyah-pitaloka-senja-di-langit.html