Wednesday, July 23, 2008

Opportunities for Integrating Ecological Restoration & Conservation Biology

Taken From
Society for Ecological Restoration International
BRIEFING NOTE May 2008
“The movement to conserve biodiversity is now at a critical junction. How do we maintain the viability and resilience of plant and animal species in the face of unprecedented habitat destruction and accelerated climate change? Outside certain plant and animal groups, ex-situ conservation currently has a limited role to play in preserving and safeguarding biodiversity on any significant scale (in terms of amount and coverage of materials available), and is often too narrowly focused on particular groups or even “charismatic” organisms, underplaying the role of different trophic levels, functional groups, and biotic-abiotic feedback interactions (particularly soils and hydrology which are often ignored completely).
At the same time, ecosystems have been fragmented or significantly degraded to the point where they are unable to support many organisms in-situ. It is now clear that conservation is no longer sufficient as protected areas continue to decline and habitat loss increases both within and outside these areas. Even many larger reserves do not have sufficient variation in habitat, elevation, or topography to allow for species adaptation to climate change. To properly address the current extinction crisis, we must not only preserve critical (core) habitat but repair and restore the ecological integrity of the surrounding and connected areas (Bennett & Mulongoy 2006), enabling threatened and endangered species to recover and indeed migrate more freely.
Along with climate change and invasive species, both conservation and restoration scientists and practitioners cite the destruction, degradation and fragmentation of habitat as key drivers in the loss of biodiversity and ecosystem services (Turner et al. 2007). Even though ecological restoration has an important part to play in mitigating climate change and re-establishing native communities, this SER Briefing Note will address the complementary roles of ecological restoration and biological conservation, and their potential for integration within a unified ecosystem approach”.
More details in : www.ser.org

1000 tahun "kelahiran" Merapi

Merapi is one of Indonesia's most active volcanoes. This stratovolcanic mountain (formed by layers of lava from successive eruptions) has a summit that reaches over 2900 m in altitude. Merapi lies in the densely populated province of Central Java and Jogjakarta. The name Merapi is believed to be derived from the words ‘Meru’ (mountain) and ‘Api’ (fire). Merapi is much more than just a mountain to the people of central Java. It is seen as a representation of the sacred Mount Meru of Hindu mythology, or as the home of more ancient Javanese spirits, and as one of the forces governing the fortunes of the old royal city of Yogyakarta, along with Ratu Kidul, the treacherous goddess of the south seas. The mountain of fire has been recorded as a highly active volcano with its first eruption and appearance and ever recorded chaotic eruption in 1006 (Van Bemmelen, 1970). The most recent eruption was in 2006 (or 1000 years after its first eruption)
Kini setelah lebih dari 1000 tahun, apa yang terjadi dengan Merapi?
Hingga kini diperkirakan hutan yang rusak diperkirakan lebih dari 1.300 hektar. Kerusakan ini sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas vulkanik maupun tren perubahan iklim dengan ENSO nya yang banyak menyebabkan kebakaran hutan. Aktivitas vulkanik gunung ini memang ibarat dua sisi mata uang. Seperti diyatakan oleh Gertz seorang pakar antropologi bidang ekologi Indonesia: “ Gunung-gunung berapi di Jawa sepanjang sejarah telah merupakan sumber bagi kehidupan-melahirkan kesuburan tanah maupun air yang diberikan oleh abu dan asap gunung-gunung berapi tersebut. Namun juga sumber kematian-yang disebabkan oleh gas beracun, awan panas, banjir lahar akibat meletusnya gunung-gunung tersebut pula”.
Selain itu aktivitas ekstraksi hasil hutan pun terus berlanjut. Serta aktivitas penambangan pasir vulkanik. Mengenai kekayaan bahan Tambang di kawasan Merapi, seperti penuturan Chafied Fandeli Dosen Fakultas Kehutanan UGM “ekosistem Hutan Gunung Merapi-Merbabu menghasilkan Sumber Daya Alam yang melimpah, berupa bahan tambang mineral golongan C. Dalam sekali meletus skala kecil saja, Gunung Merapi mengeluarkan pasir dan batu sekitar 10 juta meter kubik. Nilai pertambangan dari mineral golongan C tersebut mencapai Rp 357.984.000,- “ (Kompas, 24 September 2002).
Lalu adanya konflik sosial mengenai status kawasan yg kini oleh pemerintah ditetapkan sebagai kawasan taman nasional.
Selanjutnya, meski berdekatan dengan pusat ilmu pengetahuan terbesar di Indonesia namun Merapi masih kurang dipelajari. Penelitian ilmiah jangka panjang yang telah diadakan terbatas pada sektor vulkanik, namun tidak ada penelitian ilmiah jangka panjang untuk memahami lingkungannya. Hal ini sangat disayangkan karena sebenarnya Merapi dapat dijadikan sebuah “laboratorium alam” yang unik untuk penelitian-penelitian dibidang Kehutanan, Botani, Geologi, Agronomi, Geografi, Ekologi dan Antropologi, dan bahwasanya laboratorium alam ini kurang dimanfaatkan oleh para sarjana yang menetap di yogya mencerminkan salah satu kelemahan dunia akademis di Indonesia (Handojo, 1985).

Wednesday, July 16, 2008

menyelamatkan keanekaragaman hayati

Pada tanggal 9 Juli 2008 para pemimpin G8 berkomitmen untuk mewujudkan rencana aksi untuk menghentikan kehilangan keanekaragaman hayati di dunia. Bertempat di Hokkaido Jepang, telah dihasilkan rencana aksi yang memiliki lima komponen utama yaitu:
1. Mencapai target konservasi keanekaragaman hayati pada tahun 2010
2. Keberlanjutan pemanfaatan keanekaragaman hayati
3. Keanekaragaman hayati dan kawasan yang dilindungi
4. Pelibatan pihak swasta dalam upaya konservasi keanekaragaman hayati
5. Memperkuat kapabilitas ilmiah di dalam memantau keanekaragaman hayati.
Tambahan lagi mereka ini juga menekankan pada pentingnya ‘mempertemukan’ kegiatan penelitian ilmiah dengan masyakat umum dan para pembuat kebijakan. Selain itu perlu diingat peran penting keanekaragaman hayati di dalam meminimalisir dampak perubahan iklim, terutama dengan melakukan pengurangan emisi karbon dari deforestation dan kegiatan rehabilitasi dan restorasi ekosistem hutan sebagai carbon sinks.
Selengkapnya untuk melihat lebih detail dampak perubahan iklim terhadap keanekaragaman hayati di dunia dapat dilihat di peta interaktifnya the nature conservancy pada link berikut ini:
http://www.nature.org/initiatives/climatechange/strategies/art21202.html